Sistem pendidikan Indonesia telah melalui perjalanan panjang dalam menentukan kelulusan siswa. Dari era Ujian Penghabisan hingga wacana kembalinya ujian nasional, setiap periode memiliki ciri khasnya sendiri. Istilah NEM ujian sekolah mungkin sudah asing bagi generasi masa kini, tetapi nilainya pernah menjadi penentu masa depan.

Periode Awal ujian penghabisan dan Ujian Negara

Pada tahun 1950 hingga 1964, Indonesia menggunakan sistem Ujian Penghabisan. Soal-soal berbentuk esai dibuat langsung oleh Departemen Pendidikan dan diperiksa di pusat rayon.

Selanjutnya, periode 1965 hingga 1971 dikenal dengan nama Ujian Negara. Standar kelulusan sangat tinggi dengan nilai minimal 6 untuk setiap mata pelajaran, sehingga persentase kelulusan rendah tetapi mutu lulusan sangat baik.

Transformasi Menjadi Ujian Sekolah dan ebtanas

Pada tahun 1972, nama berubah menjadi Ujian Sekolah. Penanggung jawab ujian beralih ke masing-masing sekolah atau kelompok sekolah, sehingga mutu soal sangat bervariasi. Istilah lulus diganti dengan TAMAT, dan hampir semua siswa dinyatakan tamat.

Memasuki tahun 1980, lahirlah Ebtanas atau Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Tujuannya agar siswa memperoleh Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Persentase kelulusan sangat tinggi, namun rata-rata nilai prestasi belajar peserta didik relatif rendah.

Pengawas Ujian Sekolah pada Era Ebtanas

Peran pengawas ujian sekolah sangat krusial dalam menjaga integritas Ebtanas. Pengawas memastikan setiap peserta mengerjakan soal jujur tanpa kecurangan. Pada masa itu, poster ujian sekolah sering dipasang di mading sebagai pengingat tata tertib.

Era Ujian Akhir Nasional dan Ujian Nasional

Tahun 2003 hingga 2004 menjadi periode Ujian Akhir Nasional (UAN). Kriteria kelulusan mulai menggunakan batas nilai minimum dan rata-rata. Pada 2005, namanya berubah menjadi Ujian Nasional (UN) yang penuh drama dan kritik masyarakat.

Latihan Soal Ujian Sekolah SD dengan Pembahasan Terlengkap - Edumaster
Latihan Soal Ujian Sekolah SD dengan Pembahasan Terlengkap – Edumaster

UN sempat digugat ke Mahkamah Agung karena dianggap melanggar hak anak. Meski demikian, UN terus berjalan dengan berbagai penyempurnaan, termasuk penggunaan lima paket soal berbeda dalam satu ruang ujian.

Munculnya UNBK dan Logo Ujian Sekolah

Pada tahun 2014, UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer diperkenalkan secara terbatas. Logo ujian sekolah pun berubah seiring transformasi sistem. UNBK menjadi langkah awal digitalisasi ujian di Indonesia.

Asesmen Nasional dan Wacana Kembalinya UN

Pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Menteri Nadiem Makarim mengganti UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter. Ujian sekolah dasar pun ikut menyesuaikan dengan sistem baru ini.

Kini di tahun 2026, kabar kembalinya ujian nasional kembali mencuat. Tiga menteri pendidikan baru dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo disebut akan menghidupkan kembali sistem ujian yang sempat dihapus. Namun, belum ada kepastian resmi mengenai bentuk barunya.

Kesimpulan

Perjalanan nem ujian sekolah dari masa ke masa menunjukkan adaptasi sistem pendidikan terhadap kebutuhan zaman. Setiap periode memiliki kelebihan dan kekurangan, dari mutu lulusan yang tinggi hingga persentase kelulusan yang merata.

Ke depannya, selamat menempuh ujian sekolah bagi generasi 2026 mungkin akan kembali menjadi kalimat yang akrab didengar. Kita tunggu saja keputusan pemerintah mengenai format ujian yang akan diterapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *