Yudisium XXXII FPMIPA IKIP PGRI Bali – Cetak Lulusan Berintegrasi dan Berkarakter

FPMIPA IKIP PGRI Bali menggelar acara yudisium dan pelepasan calon wisudawan XXXII di Baliroom Hotel Nikki. Saat itu, FPMIPA IKIP PGRI Bali melepas 204 calon wisudawan yang terdiri dari 152 orang jurusan Pendidikan Matematika dengan IPK rata-rata 3,31 dan jurusan Pendidikan Biologi sebanyak 52 orang dengan IPK rata-rata 3,39..
Dekan FPMIPA IKIP PGRI Bali Drs. I Wayan Suanda, S.P., M.Si. mengatakan ,sebagai pimpinan fakultas dan civitas akademika FPMIPA mengucapkan selamat atas keberhasilan calon wisudawan yang memperoleh gelar sarjana. Keberhasilan tersebut, kata dia, merupakan cambuk untuk meningkatkan kompetensi diri dengan meningkatkan keseimbangan soft skill dan hard skill.
“Supaya mereka bisa diterima di tengah masyarakat dan dengan prestasi lebih meningkat terlebih lagi diberlakukannya Kurikulum 2013 yang menekankan inovasi dan kreativitas peserta didik,”ujar Suanda.
Oleh karena itu, Suanda menekankan, mindset guru juga perlu didorong untuk mengembangkan diri serta mengasah kreativitasnya. Pasalnya keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh guru. “Jadikanlah lingkungan dan masyarakat sebagai laboratorium belajar. Raihlah dari setiap langkah yang dikerjakan sehingga mendapatkan kontribusi dari kompetensi yang dimiliki”, tandasnya.
Dia berharap, lulusan FPMIPA IKIP PGRI Bali memiliki integritas dalam profesi untuk jadi guru. Selain itu, para calon wisudawan itu menjadi pendidikan berjarakter dengan berlandaskan cinta kasih, yaitu kejujuran, kebenaran daan kebajukan.
“Dalam setahun, kita melaksanakan dua periode yudisium, yaitu Februari dan Agustus. Biasanya Agustus pesertanya paling banyak,” kata Suanda.
Sementara Rektor IKIP PGRI Bali Dr.I Made Suarta, S.H., M.Hum. selalu pimpinan mengatakan kegiatan yudisium merupakan bagian proses akaddemis yang harus dilakukan. Setelah terjun ke masyarakat, para lulusan tersebut diminta jangan berhenti belajar dan terus meningkan kualitas diri melalui penambahan skill sehingga menjadi sarjana plus. “Itu yang kami harapkan,”tambahnya
Apalagi dengan situasi seperti sekarang ini, kompetitornya sangat banyak, di sisi lain keterbatasan lapangan pekerjaan. Dengan adanya unit kegiatan mahasiswa (UKM), kata Suarta, merupakan penambahan pengetahuan dan skill. “Itu jaadi acuan untuk berbuat lebih baik ke depan supaya tidak tersingkir dan kompetisi yang cukup keras. Harapan kami, jangan jadi penonton dalam situasi sangat sulit ini.” Ujarnya.

(2014; Bali Post)