Yudisium dan Pelepasan Sarjana XXXVII IKIP PGRI Bali

11_YUDISIUM_IKIP_PGRI_BALI1

IKIP PGRI Bali menggelar yudisuim dan pelepasan sarjana XXXVII dari Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) serta Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), pada Jumat (10/3) di Auditorium Redha Gunawan. Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I made Suarta, SH.,M.Hum., di sela acara berharap, para lulusannya mampu menjadi ‘sarjana plus’.

Sarjana plus kata Suarta, adalah sarjana yang mampu menangkap dan menterjemahkan zaman melui skill yang telah didapatkan dari kampus. Ditambahkannya, mindset harus menjadi guru harus dihapuskan, sebab jalan menuju sukses tidak harus menjadi guru. “Ketika satu pintu tertutup, sadarilah masih banyak pintu lain yang terbuka,” kata Suarta.

Suarta juga berpesan, mahasiswa dan lulusan IKIP PGRI Bali harus menjadi manusia pemberani. Menurutnya, dengan keberanian, segalanya jalan terlihat lurus. Sebaliknya, jika menusia penakut, segala jalan akan terlihat buntu. Sebagai tanggung jawab moral IKIP PGRI Bali kepada lulusan, pihaknya terus mengupayakan mengundang para alumni untuk memotivasi mahasiswa melalui success story nya. Disamping itu, pihaknya selalu memberikan informasi terkait peluang usaha atau bursa kerja.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua YPLP IKIP PGRI Bali IGB. Arthanegara membeberkan, yudisuim kali ini sengaja digelar di lingkungan kampus, dengan tujuan memperkenalkan kemajuan kampus kepada orang tua mahasiswa peserta yudisium. “Kita sedang membangun gedung lantai IV. Ini suatu kemajuan, mereka harus tau,” paparnya.

Dihadapan puluhan peserta yudisium, Arthanegara berpesan, supaya mereka jangan lupa pada ‘kawitan’ IKIP PGRI Bali yang telah memberikan ilmu sebagai bekal mengarungi dunia baru. Karenanya, Artanegara berharap para lulusan menjadi marketing yang menceritakan keunggulan kampus kepada teman, sanak saudara serta masyarakat luas. “Selamat kepada saudara sekalian. Semoga sukses di mana pun saudara bertugas ke depan,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Dekan FIP I Nyoman Waga. Kendati telah dikukuhkan menjadi sarjana, namun ia mengajak peserta yudisuim tidak berpuas diri dan menganggap ini akhir dari segalanya, melainkan proses tersebut justru awal dari perjuangan memenangkan persaingan di dunia kerja yang semakin kompetitif. “Teruslah mengisi diri dengan ilmu. Harapan di pundak saudara sangat berat. Jadilah insan yang percaya diri,” ujarnya.

Lulusan juga diajak mampu berinteraksi di tengah kehidupan yang multi kultur untuk memenangkan persainagan dalam arti positif. Ia menilai, tidak ada pilihan lain kecuali pro active dan setia kepada profesi, sebelum gelombang globalisasi datang menggilas. “Dharma bakti saudara sudah ditunggu keluarga, masyarakat dan negara,” kata Waga mengakhiri.

Berikan Komentar