Seminar Nasional digabungkan, “Dengan Rakernas Asosiasi LPPM PGRI Se-Indonesia, “

Seminar Nasional digabungkan, “Dengan Rakernas Asosiasi LPPM PGRI Se-Indonesia, “

Seminar Nasional itu digabungkan dengan Rakernas Asosiasi LPPM PGRI Se-Indonesia, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Majalah Ilmiah. Diakui Made Suarta, penerapan Tridarma Perguruan Tinggi di Institut yang dipimpinnya, terdapat pada kompetensi penelitian yang saat ini mulai gencar dibangun.

Setiap dosen harus memiliki jurnal ilmiah yang didasarkan pada penelitian. Sementara, pemerintah melalui Kemenristek Dikti menyiapkan anggaran riset yang harus diraih dengan persyaratan tertentu. Seminar nasional yang telah dua kali diadakan di kampus keguruan ini, menurut Made Suarta, akan menjadi bagian dalam proses merebut dana hibah penelitian.

“Saya harap dosen harus memanfaatkan kegiatan ini untuk menyerap informasi dari para pakar di bidangnya yang saat ini kita hadirkan,” jelas Suarta.

Pihaknya juga mendorong kepada setiap dosen untuk mengadakan penelitian sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Selain itu, penelitian harus diterbitkan di jurnal ilmiah terakreditasi.

“Kami ingin merebut dana hibah itu yang selama ini baru tembus 7 dosen. Kami ingin menutup kelemahan ini dengan mendatangkan pakar,” jelas Made Suarta.

Dua pakar yang dihadirkan antara lain, Prof. Ocky Karna Radjasa, M.Sc., Ph.D dari Kemenristek Dikti dan Prof. Dr. Drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, seorang pakar di bidang publikasi.

Kepada media, Ocky Karna Radjasa mengatakan, paradigma pendidikan di Perguruan Tinggi mengalami transformasi. Dikatakan Ocky, riset menjadi bagian utama sebagai bahan pengajaran.

“Bahan ajar harus berbasis riset. Ini yang harus kita perkuat,” jelas Ocky Karna Radjasa saat menjadi pemateri di Kampus IKIP PGRI Bali.

Hanya saja, menurut Ocky, pengembangan penelitian di lingkup perguruan tinggi masih terganjal dengan minimnya anggaran. Pihaknya harus membagi menjadi 4 cluster untuk mendapatkan kapasitas yang maksimal dalam penyaluran dana penelitian tersebut.

Untuk cluster Mandiri, Ocky menambahkan, anggaran yang tersedia hanya Rp 2 milyar per tahun untuk pembinaan terhadap dari 3.220 Perguruan Tinggi. “Yang mandiri hanya 25 dari 3.245 Perguruan Tinggi. Jadi sisanya kebanyakan masih dalam Pembinaan,” jelas Ocky Karna Radjasa.

Berikan Komentar