Peringatan Hardiknas di IKIP PGRI Bali – Rektor Pendidikan Jadi Vaksin dan Elevator Sosial

Pendidikan dapat menjadi vaksin social dan juga elevator social untuk meningkatkan status social. Oleh karena itu memerlukan vaksin dan elevator sosial, sehingga terhindar dari tiga penyakit yaitu, kemiskinan, ketidaktahuan dan keterbelakangan. Hal itu dikemukakkan Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. pada upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Hadir pada upacara peringatan (Hardiknas), Ketuua YPLP PT IKIP PGRI Bali, IGB Arthanegara, S.H.,M.Pd., M.H. seluruh pembantu rector, dekan dan pembantu dekan serta dosen, pegawai dan mahasiswa. Suarta menegaskan, untuk menjawab ketiga penyakit itu, tidak lain hanyalah pendidikan. KI Hajar Dewantara, 1989-1959 seorang tokoh pendidikan Indonesia yang memrakarsai berdirinya lembaga pendidikan Taman Siswa.
Ki Hajar Dewantara lebih terkenal dengan filsafat, hing ngarso sung tulodo, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Dewantara mengklarifikasikan tujuan pendidikan dengan istilah Tri-Nga, Tiga nga dalam huruf terakhir dalam abjad Jawa ajisak. Nga pertama aaadalah ngerti ( memahami/aspek intelektual kongnitif. Nga kedua, ngarsa ( merasakan/aspek afektif), dan Nga ketiga, ngalakonin (mengajarkan/aspek psikomotorik).
Dewantara juga mengatakam, hak setiap orang untuk mengatur diri sendiri. Oleh karena itu pengajaran harus mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batin, pikiran dan tenaga. Pengajaran jangan terlampau mengutamakan kecerdassan pikiran, karena itu dapat memisahkan orang terpelajar dengan rakyat.
Suarta menguraikan, pemerintah harus konsisten terhadap wajib belajar (wajar) 12 tahun, selain segi saran dan prasarana juga tenaga guru. Pemerntah telah menetapkan APBN untuk pendidikan sebesar 20 persen, bagi SD, SLTP, SLTA. UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 mengamanatkan bahwa, setiap warga Negara berhak memperoleh pendidikan dasar dan Negara wajib membiayainya. Pemerintah Pusat dan Daerah bersama- sama masyarakat telah berusaha memenuhi amanat tersebut melalui pembangunan Sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Serta masuk 3T yakni terdepan, terluar dan tertinggal. Akses pendidikan dipengaruhi oleh ketersediaan satuan pendidikan dan keterjangkauan dari sisi pembiayaan dan untuk itu pemerintah terus menerus menyiapkan ketersediaan satuan pendidikan yang layak, terutama di daeerah 3T.
Termasuk pengiriman tenaga guru melalui program sarjana untuk mendidik di daerah 3T, ujar Suarta. Selain itu pemerintah juga telah menyiapkan BOS unuk pendidikan dasar dan menengah, BOPTN dan Bidikmisi . Hal yang penting pula untuk disimak, bahwa sejak tiga tahun terakir pemerintah telah membuka berapa PTN di daerah perbatasan dan beberapa daerah yang di nilai strategis.
Disamping sebagai upaya penyebaran pusat unggulan PT, juga berperan sebagai sabuk pengaman sosial politik bagi keutuhan NKRI. Pada kesempatan itu Suata juga menyampaikan program keiatan jangka pendek PT yang dipimpinnya baik yang telah dan akan dilakukan.

( 2014; Fajar Bali)

Berikan Komentar