“NYUNGSANG” SIAP GO NATIONAL

“NYUNGSANG” SIAP GO NATIONAL


“Nyungsang” Siap Go National

Satu lagi film bertema budaya Bali hadir untuk menghibur pecinta film. Perpaduan mitos dan realita tentang leak tersaji dalam film “Nyungsang” garapan Gases Bali dan IKIP PGRI Bali.

Satu per satu undangan memasuki Studio 5 Denpasar Cineplex, Kamis (29/3) sore. Ini merupakan hari spesial bagi kru film “Nyungsang”. Gala premiere tersaji untuk undangan dan keluarga besar pendukung “Nyungsang”.

Diawali dengan tangisan Odah (nenek) sambil menimang cucunya, Luh Putu Nesti yang juga menangis. Mereka dikerumuni dedemit yang berpenampilan seram. Latar pohon beringin yang rimbun dan kabut asap membuat suasana tambah seram.

Luh Tu Nesti baru saja kehilangan orangtuanya. Ia pun menjadi anak yatim piatu yang diasuh Odah. Seiring perjalanan waktu, Luh Tu Nesti yang diperankan Gek Ari tumbuh menjadi perempuan dewasa yang cantik dan pintar menari.

Rasa sayang Luh Tu Nesti pada Odah ditunjukkan dengan melayani segala keperluan Odah. Ia tak kenal lelah bahkan mengabaikan usianya yang tambah dewasa dan belum menikah. Banyak yang berminat pada Luh Tu Nesti, namun kebanyakan mundur karena takut pada Odah yang disinyalir punya ilmu pengeleakan.

Ternyata Luh Tu Nesti merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Saat tertentu, ia merasa bukan dirinya sendiri. Ternyata terkuaklah realita, Odah memang memiliki ilmu pengeleakan yang sudah diturunkan ke Luh Tu Nesti.

Alur film yang bolak-balik menampilkan Luh Tu Nesti yang sudah tua memiliki cucu bernama Pujas. Anak muda kekinian yang hobi matajen. Suatu saat, Pujas masuk ke kamar Odah dan merasakan sesuatu yang aneh. Hingga di pengujung film, Pujas ditindih leak. Sebuah ending gantung yang membuat penonton penasaran.

dalam film itu diharapkan masyarakat dapat menyikapi suatu hal yang terkait rwa bhinedha yang ada dalam dunia ini. Di mana yang terdapat sebuah hitam dan putih yaitu jahat maupun baik

Di Film “Nyungsang” ini, sang Sutradara Komang Gases tidak mau memberikan statement bahwa leak itu bagus atau jelek. Ia sengaja memberikan penonton memilih dan memilah, karena semua pasti ada risiko. Masyarakat diharapkan dapat menyikapi suatu hal yang terkait rwa bhinedha yang selalu ada dalam dunia ini. Semua itu jelas terucap dalam bahasa-bahasa seperti: “Ape je ne gelah cening, jalanin. Yen sube nyalanin kepatutan, jalanin”.

Namun, dalam sebuah scene, ada juga bahasa pamannya si tokoh utama Luh Tu Nesti, yang memberikan pelurusan untuk memahami sebuah ilmu. “Apapun yang sudah diwariskan dan dijadikan sebuah tradisi, jalankan dengan baik dan benar. Jika kamu tidak bisa menjalankan itu nanti nyungsang pejalanan ceninge”.

“Ini penayangan perdana dan respons penonton cukup lumayan. Kami akui banyak hal yang perlu diperbaiki. Masing-masing pemain punya kelemahan. Ke depan, kami sudah sepakat, kalau ini sukses akan garap sekuelnya. Evaluasi tetap perlu dilakukan,” ungkap Rektor IKIP PGRI Bali Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum.

Suarta yang turut berperan sebagai Pak Man menuturkan ini pengalaman pertamanya bermain film layar lebar. Seniman arja ini merasa ada hal-hal yang perlu dievaluasi, misalnya penguatan karakter dengan memberikan skrip naskah lebih awal. Ada pemain yang cepat memahami naskah dan ada yang perlu waktu lebih lama.

“Secara umum, semua sudah berjalan baik. Ke depan, kami sudah sepakat agar “Nyungsang” tidak hanya tampil di level regional tetapi bisa go national. Apalagi ini film yang mengusung misi budaya. Teaser filmnya saja sudah ditonton lebih dari 50 ribu pengguna media sosial. Respons yang sangat luar biasa,” tegas Suarta.

Sementara, Komang Gases mengaku puas dengan penayangan perdana film “Nyungsang” ini. “Apa yang ingin saya sampaikan akhirnya bisa tersampaikan, dari sisi spirit, sisi seni, dan sisi keilmuan,” tegasnya. Walau dengan kamera kecil dan proses dubbing sederhana, mampu membuat film bergenre tragedi komedi ini menghibur penonton. Ada saatnya penonton menjerit dan ada kalanya mereka tertawa.

Putra (alm) Mangku Candra ini menuturkan banyak suka-duka selama pembuatan film ini. Sukanya, ia bisa berkumpul dengan teman-teman dan bisa berkarya bersama. “Awalnya jujur kami tanpa tandatangan kontrak. Ini murni untuk pekerjaan. Ketika ada hasil, baru buatkan kontrak. Biar tidak ada tumpang tindih. Ini sudah masuk bioskop. Meski tidak banyak, adalah yang dibagi. Saya bisa tahu mana yang care, mana yang hanya pikirkan uang saja. Saya terbuka dengan mereka,” jelas Komang Gases.

Ia juga mengaku banyak hal yang dipelajari selama pembuatan film ini. Sebagai sutradara yang didukung IKIP PGRI Bali, Gases, Jagir, dan yang lainnya, ia ternyata tidak tahu detail tentang film. “Saya hanya bermodal ide untuk pertahankan seni dan budaya Bali. Selama ini IKIP PGRI Bali dan Gases sudah sering ngayah di dunia seni. Sekarang kami harus berani masuk dunia perfilman agar lebih dikenal masyarakat,” tegasnya.

Ia pun sepakat dengan apa yang disampaikan Rektor IKIP PGRI Bali. “Kami memang membuat ending menggantung agar penonton penasaran dan kami siap untuk melanjutkan film ini agar go national,” ujar Komang Gases yang juga dosen IKIP PGRI Bali ini. –wah, ten

Berikan Komentar