IKIP PGRI Bali Mantapkan Program “E-Learning”

Mengawali tahun 2015, IKIP PGRI Bali memantapkan program e-lerning. Program ini ditandai dengan launching wifi IKIP PGRI Bali yang dilakukan Koordinator Kopertis Wilayah VIII Prof. Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum, rabu kemarin di Auditrium Redha Gunawan.
Launching wifi IKIP PGRI Bali kemarin di hadiri Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bai Drs, IGB Arthanegara, SH., MH.,M.Pd. Sekertasir Ngurah Oka, SH., Ketua Pembina Drs. Dewa Putu Tengah, Ketua Dewan Pengawas serta pembantu rektor.
Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum. mengungkapkan program ini sudah dirintis sejak lama. Diantaranya dengan mengirim 21 dosen ke Universitas Negeri Malang melalui rekomendasi PB PGRI Pusat. Kedua, tuntutan dari mahasiswa untuk mendapat peayanan e-learning yang lebih intensif serta menjadi kebutuhan bersama menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Program ini, katanya bekerja sama dengan Serjahtera Group. Dengan fasilitas ini mahasiswa dan dosen mendapat akses yang cepat dalam PBM berbasis e-learning. Tugas mahasiswa dan tugas dosen tak lagi mengenal waktu dan harus dikampus, melainkan bisa dilakukan dimana saja. Akses internet ini diberikan secara gratis selama 24 jam setiap hari. Dengan demikian PBM di IKIP PGRI Bali makin cepat dengan akses yang cepat dengan juga. Semua mahasiswa dengan dosen diberikan password.
Di sisi lain, Rektor IKIP PGRI Bali Made Suarta mengatakan IKIP PGRI Bali memanfaatan peluang dengan dibukanya keran pembukaan prodi baru mulai Januari ini. IKIP PGRI Bali sudah mengusulkan empat prodi baru. Dua Prodi S-1 PGSD dan S-1 Bahasa Inggris di form lima, Dua Prodi lainnya S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia dan S-1 PGTK akan dilakukan pendaftaran ulang.
Coordinator Kopertis VIII Prof. Dr. Nengah Dasi Astawan, M.Si. mengungkapkan dengan e-learning ini berarti IKIP PGRI Bali selangkah lebih maju. Dengan e-learning tak lagi ada lagi factor penghambat dosen dan mahasiswa dalam mejalankan PBM. Kuncinya kecanggihan TI ini harus dimanfaatkan oleh dosen dan mahasiswa dengan pendekatan mutu. Meski demikian, pertemuan tatap muka tetap menjadi syarat utama sekalipun semuanya berbasis TI.
Dengan e-learning, katanya, tak ada alasan dosen tak merespon tugas dan pertanyaan mahasiswa. Hanya perlu didukung oleh fasilitas HP yang smartphone oleh mahasiswa dan dosen. Jika dosen IKIP PGRI Bali belum memiliki smartphone bisa disubsidi pihak yayasan.
Dasi Astawan juga mengungkapkan Ditjen Dikti pada Januari-Maret membuka pendaftaran untuk pembukaan prodi baru, institusi baru dan peningkatan status PT. Syarat yang harus dipenuhi yakni record badan penyelenggara/ yayasan secara baik, analisis keenuhan, kontinuitas dan penyediaan infrastruktur. Syarat lainnya, tak ada konflik antarbadan penyelenggara serta memiliki SDM minimal enam S-2 untuk S-1, minimal enam doktor untuk S-2 dan enam S-3 serta tiga guru besar untuk prodi S-3.
Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali IGB Arthanegara menyambut baik implementasi e-learning di IKIP PGRI Bali. Terhadap bantuan smartphone kepada dosen, dia mengatakan akan dipikirkan lebih lanjut melalui penyelenggaraan tahun depan.

(Bali Post ; 2015)

Berikan Komentar