Dari Bedah Buku FPBS IKIP PGRI Bali – Banggalah Membeli Buku daripada Membeli Baju

Serangkaian hari Sumpah Pemuda, kemarin Prodi Bahasa Indonesia dan Daeerah FPBS IKIP PGRI Bali menggelar bedah buku. Dua buku yang dibedah saat itu masing-masing kumpulan puisi “Tubuhku Luka Pesisir. Tubuhku Luka Pergunungan” karya I Gede Artawan. Buku ini dibedah oleh Warih Wisatsana . Buku kedua “Apresiasi Sastra dalam Pembentukan Pikiran Kritis” karya guru SMAN 8 Denpassar IGK Tribana dibedah I Made Sujaya, S.S., M.Hum.
Ketua panitia Ni Made Veni Mariyatni mengungkapkan acara bedah buku ini diikuti 500 mahasiswa bertujuan untuk member pengalaman bagi mahasiswa dalam mengkritisi dan menganalisis sebuah karya buku.
Dekan FPBS IKIP PGRI Bali Dr. I Nengah Arnawa, M.Hum. didampingi kaprodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah I.A Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum. saat membuka bedah buku mengungkapkan agenda bedah buku untuk meningkatkan kesadaran anak muda berbangsa dan berbahasa. Sebab, di era budaya ini kuncinya adalah berbahasa. Kedua , dia ingin meningkatkan atmosfir akademik untuk menanamkan budaya bangalah membeli buku, bukan bangga membeli baju.
Disamping itu, bedah buku ini juga menumbuhkan keterampilan kritis mahasiswa. Sebab, orang pintar belum tentu mampu berpikir kritis, apalagi menguasai kritik sastra. Dengan demikian mahasiswanya mendapat sandaran yang benar tentang sebuah karya sastra atau buku. Sebab, untuk bisa mengkriisi karya sastra harus kuat landasan sejarah dan teorinya.
Lewat bedah buku ini, kata Arnawan, juga menanamkan budaya menghargai hak cipta. Sebab, ketika mahasiswa memfotokopi sebuah buku, itu sudah termasuk pelanggaran hak cipta. Untuk itu dia ingin lulusan FPBS IKIP PGRI Bali kuat dalam bidang akaemik sesuai profesinya, juga kuat dalam menganalisis sebuah karya buku/sastra. Makanya Arnawa menegasskan budaya akan eksisi= jia bahasa itu eksis.
IGK Tribana menyayangkan banyak guru di Bali yang gagal naik pangkat karena minimnya karya publikasi. Saat ini pemerintah sudah member ruang selebar- lebarnya bagi guru untuk naik pangkat. Mereka bisa mendapatkan kredit poin bisa mendapatkan kredit poin bisa melalui karya tulis, menyususn buku, PTK atau artikel popular.
Guru Bahasa Indonesia ini meminta guru rajin dan membudayakan menulis. Sebab, untuk menmbuhkan budaya siswa menulis juga dimulai dari guru yang suka menulis. Tidak saja untuk kepentingan kenaikan pangkat namun untuk peningkatan mutu pembelajaran di kelas.
Sementara itu, Gede Artawan yang juga sastrawan ulung dan dosen Undiksha ini sudah menjadikan sassra sebagai nafas hidupnya. Sekalipun dalam kondisi sakit, Gede Artawan tetap produktif menyususn karya sastra. Sebagai seniman dia juga membudayakan budaya menulis dan membaca di kalangan anak muda sekarang.

(2014 ; Bali Post)

Berikan Komentar