Bubarkan Komite Sekolah, Cabut dulu PP-nya

Jika ada oknum anggota atau Ketua Komite sekolah bekerjassama dengan guru atau kepala ssekolah memungut dana kepada orang tua murid, sebaiknya oknum itu ditindak tegas, tetapi bukan wadah atau organisasinya dbubarkan
Organisasi Komite sekolah yang ssudah ada dibentuk berdasarkan PP (peraturan pemerintah) nomor 044/O/2022 tertanggal 2 Aprol 2022 dengan tujuan utamanya adalah membantu kelancaran pendidikan disekolah baik diperkotaan maupun di perdesaan.
Jadi kalau mau membubarkan Komite sekolah cabut dahulu PPnya, komentar Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Badung Ngurah Oka SH dan Kedua Komite Sekolah SMP Negeri 3 Denpasar Drs. I Gusti Bagus Arthanegara SH, M.Pd di Denpasar.
Kedua tokoh pendidikan itu menyatakan pendapatannya setelah diminta tanggapannya atas wacana Wagub Bali Drs. Ketut Sudikerta menyatakan persetujuan membubarkan Komite Sekolah untuk menghindari terhada peserta didik.
Sudikerta saat memimpin studi banding para wartawan, pimpinan redaksi dan kabag, humas pemkab/pemkot se Bali ke Surabaya diminta komentarnya tentang kemungkinannya membubarkan Komite Sekolah menyusul sulitnya meniadakan berbagai pungutan kepada peserta didik pada sekolah-sekolah negeri yang ada di Bali.
Diantara berbagai pungutan tersebut, ada yang mengatasnamakan komite sekolah. “kalau menurut saya lebih baik komite sekolah dibubarkan saja agar tak ada pungutan-pungutan dalam bentuk apa pun kepada anak-anak kita.”katanya.
Dalam menghadiri adanya pungutan-pungutan tersebut, Pemprov Bali segera mengeluarka surat edaran untuk melarang bagi setiap sekolah negeri mulai SD,SMP dan SMA, melakukan pungutan (dalam bentuk apapun). “Pemprov Bali segera akan mengeluarkan surat, melarang berbagai pungutan disekolah-sekolah.”katanya.
Banyak membantu
Organisasi orang tua murid itu sudah banyak membantu proses kelancaran pendidikan di daerah ini, seperti misalnya komite sekolah SD 1 Abiansemal Badung, mampu menyumbangkan gedung perpustakaan untuk anak-anak didik dengan sumbangan yang diberikan orang tua murid.
Bangunan nyata tersebut diwujudkan atas sumbangan orang tua murid yang tentu tidak mengikat, kata Ngurah Oka, yangkini masih aktif dalam dunia pendidikan yakni sebagai Sekertaris Yayasan IKIP PGRI Bali.
Ketua Komite Sekolah menengah Pertama Negeri 3 Denpasar, Gusti Bagus Arthanegara yang juga seorang tokoh pendidikan menyatakan, pihaknya mengapresiasi terhadap usaha sekolah dalam memajukan anak-anak didiknya.
Ketua Komite dan Kepala Sekolah tentu memaparkan dalam proses belajar mengajar dalam pertemuan orang tua murd, dan untuk memajukan dunia pendidikan memerlukan biaya yang besar.
Dalam mengumpulkan dana itu, pihak sekolah mengajukan perencanaan kegiatan yang memerlukan dana dari pihak masyarakat utamanya orang tua murid, maka sumbangan yang diberikan dengan tidak mengikat.
Kalau ada orang tua murid tidak mampu memberikan sumbangan tidak apa-apa, tutur Arthanegara sambil menyebutkan banyak orang tua murid secara jujur menyatakan mau menyumbang sesuai kemampuannya dan ada pula menyatakan tidak karena kondisi ekonominya kurang.
Sumbangan itu tidak memaksa, ini bukan teori, tetapi memupuk kejujuran, kalau tidak mampu bilang tidak menyumbang, tidak apa, tambah Arthanegara dalam pengalamannya menjadi Ketua Komite SMPN 3 Denpasar hingga kini.
Dana yang dikumpulkan dari sumbangan masyarakat tersebut dimanfaatkan untuk kelancaran proses belajar mengajar yang belum disediakan oleh pemerintah, seperti honor guru, belajar tambahan anak-anak demi peningkatan prestasi, seperti mengikuti lomba, odalan di Pura Sekolah.
Banyak kegiatan dalam meningkatkan prestasi anak di sekolah memerlukan biaya, inilah yang dimintakan sumbangan kepada orang tua murid. Jika anak-anak ingin lebih maju memang memerlukan dana tambahan, kata dia lagi.

(Pos Bali; 2014)

Berikan Komentar